Sniper Legendaris Indonesia

Postur tubuh di usia senjanya masih tegap layaknya
prajurit. Sikap milter yang serba sigap juga masih tampak ketika mantan
penembak jitu (Sniper) TNI AD itu memberikan salam. Dialah, Peltu (Pur) Tatang
Koswara (70), sniper yang paling ditakuti semasa RI berkonfrontasi dengan para
gerilyawan Fretilin di Timor Timur (1975 – 1978).
Sebagai seorang remaja yang tumbuh besar di daerah
pertanian Banten, Tatang memang sudah biasa berburu menggunakan senapan locok.
Sasarannya adalah hama pertanian yang berupa babi hutan/celeng. Kegiatan itu
membuatnya ingin menjadi seorang ABRI. Taktik berburu babi hutan yang dilakukan
Tatang, secara tak sengaja sudah menunjukkan cara kerja seorang Sniper.
Jika dibandingkan dengan Sniper kelas dunia seperti
Vasily Zaytsev, Sniper asal Russia yang selama PD II berhasil membunuh 225
pasukan Nazi Jerman, latar belakang Tatang memiliki kemiripan. Vasily yang juga
seorang pemburu serigala dan rusa itu, juga sudah dikenal sebagai penembak
mahir saat remaja.
Sesuai cita – cita awalnya, setelah lulus SMA, ia
mendaftar sebagai prajurit tamtama TNI AD dan diterima. Berkat kemampuannya, ia
ditarik dari Kostrad dan dipindahkan ke Pussenif. Ia bertugas sebagai guru
militer yang bertanggung jawab mengajarkan teknik menembak dan berperang.
Berkat kemampuan menembak jitunya, ia mendapat
pendidikan Sniper di Batujajar, Bandung dari para pelatih yang berasal dari
Green Berets, AS dibawah pimpinan Kapten Conway. Bersama 17 orang lainnya,
Tatang dilatih strategi tempur Sniper, menggunakan senapan Winchester model 70
yang kerap digemari oleh para penembak jitu, karena tingkat akurasinya yang
tinggi dalam jarak 900 meter.
Dalam setiap penugasan, para Sniper diarahkan untuk
membawa 50 butir peluru. Sebanyak 49 butir untuk musuh sedangkan satu butir
untuk dirinya sendiri sewaktu terdesak/ bunuh diri. Ketika pecah konflik di
Timor Timur, Tatang juga merupakan salah satu personel militer yang dikirim. Seorang
Sniper ditugaskan untuk membunuh terlebih dahulu musuh yang mempunyai potensi
besar, misalnya komandan pasukan, pembawa radio, dan penembak sub mesin.
Sebagai seorang Sniper profesional yang suka
bertempur sendiri dan mengendap ke wilayah musuh, Tatang memang tidak selalu berjalan
dengan mulus. Pada misi rahasia untuk memburu komandan musuh, tiba – tiba peluru
menghantam betis kanannya. Namun Tatang tetap diam dan menunggu keadaan aman
untuk merawat lukanya. Ia mengambil gunting, lalu mengeluarkan serpihan peluru
ricochet dan membalut lukanya.
Ada satu strategi unik yang dimiliki Tatang, yaitu
trik sepatu terbalik. Tatang menciptakan sepatu dengan alas terbalik yang
tujuannya untuk mengelabuhi musuhnya. Bagian depan sepatu dipindahkan ke arah
belakang dan terbukti berhasil mengelabuhi lima personel musuh. Tugas yang
sebenarnya sebagai seorang Sniper adalah sebagai intelijen. Mereka harus
menyusup ke wilayah musuh, mencari informasi, menembak musuh yang berpotensi
merugikan bagi temannya, sekaligus dapat kembali ke markas dengan selamat dan
membawa hasil pengintaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar